Header Ads

Kampung Kapitan Sisa Peradaban Tionghoa

Tidak tahu persis kapan pertama kali etnis tionghoa menginjakkan kakinya kali pertamanya ke Palembang, banyak hal yang mesti digali dan diteliti kembali sejarah awalnya etnis tionghoa masuk ke Palembang, menurut Oey eng sui salah satu warga kampung kapitan etnis tionghoa, dari mulai 2005 sampai sekarang baru mulai digali lagi sejarahnya, kampung kapitan adalah tempat awalnya etnis tionghoa Kota Palembang bermukim dan berpusat disana. 
 
Tapi kejelasannya mesti digali kembali. Kalau berdasarkan silsilah temenggung TJua Ham Hin, sesepuh kami, berarti kampung kapitan telah ada sebelum 1850, beliau sendiri generasi ke sepuluh dari leluhur pertama kami, dan saya belum bisa menyebutkan silsilah dari awal, leluhur kami. Dan saya adalah mantu dari generasi ke 13, cerita pria yang sudah berambut putih ini. Sejak abad ke 19 sampai 20 kampung kapitan sekaligus nilai-nilai budaya dan sejarahnya terkikis apalagi setelah zaman kemerdekaan, dulu pusat perdagangannya berada di 10 ulu dan itu termasuk wilayah Tjua Ham Hin china town atau sekarang menjadi sebutan kampung kapitan. Dulu kampung kapitan dikenal sebagai kota cina yang disebut china town luas wilayah kala itu adalah 20 hektar dan sepuluh ulu sekarang adalah pusat perdagangannya. Hingga sekarang Peninggalan bangunan leluhur etnis tionghoa yang tersisa adalah dua rumah panggung ini. 
 
Dulu ada tiga bangunan rumah leluhur kampung kapitan etnis tionghoa sekarang tingal dua rumah yang satunya sudah dijual, akibat masalah ekonomi dan terkikis oleh zaman, tuturnya ketika disambangi dirumahnya peninggalan leluhurnya. Kampung kapitan awalanya dihuni keluarga besar dari nenek moyangnya Tjua Ham Hin, awalnya pasti datang pertama kali ke Palembang membawa keluarganya beserta jajarannya, tukang masak, anak buah, dayang-dayangnya,bisa-bisa ratusan orang mendatangi tempat ini tapi sekarang telah menyebar ke berbagai daerah, dan untuk kampung kapitan sendiri sekarang hanya tinggal belasan Kepala Keluarga (KK). Memang tak banyak yang bisa diceritakan dari sejarah awalnya kampung kapitan, karena minimnya data dan informasi, tapi bila ditilik dari garis keturunan leluhurnya yaitu generasi kedelapan Tjau Ham Him telah ada sekitar 1805, ia adalah leluhur orang tionghoa Kota Palembang dan seorang temenggung keluarga dan leluhurnyalah yang membawa etnis tionghoa ke Kota Palembang.

Lakukan Kirab

Bisa kita sebut kirab sama dengan pagelaran arak-arakan yang bermakna religius bagi suatu komunitas tertentu atau secara budaya merupakan pagelaran adat, tapi khusus kirab sriwijaya 2011 kali ini yang dilakukan pertama kali adalah sebuah upacara keagamaan, semacam ritual dengan tujuan untuk membersihakan sifat-sifat jahat yang ada di lingkungan sekitar. Kirab yang dilakukan ada dua bagian, kirab laut dan kirab darat, terbagi jadi dua kirab mobil dan jalan kaki. Kirab laut berawal dari kampung kapitan pada 05.00 Wib dengan mengarak rupang (patung,red) dewa menuju kelenteng Dewi Kwan Im, 10 ulu dilanjutkan menuju Pulau Kemarau dan berakhir di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Kirab laut menggunakan kapal putri kembang dadar dipinjamkan oleh dinas pariwisata. 
 
Kermudian dilanjutkan dengan kirab mobil dan kirab jalan kaki, saat kirab dilakukan doa-doa spiritual untuk mengusir roh-roh jahat yang ada di lingkungan Kota Palembang hingga menjadi aman dan nyaman. Upacara Kirab jalan kaki juga dilaksanakan dengan membawa sejumlah rupang-rupang dewa dari berbagai kelenteng di Kota Palembang dibawa menggunakan tandu berjalan menyusuri rute yang telah ditentukan sejauh 8 kilo. Untuk kirab jalan kaki bermula dari Che Bun Lau-Dwikora-PS (palembang Square)-Radial-Simpang ipto-Kemang anis-Putri Rambut Selako-Sumpah Pemuda-Angkatan 45-Demang lebar Daun-Che Bun Lau.

 
 
http://sosbud.kompasiana.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.